Usai Keluarkan Uang 1,2 Juta, Pasutri Ini Malah Terlantar di Pelabuhan Tanjung Kalian

0

Lensabangkabelitung.com, Muntok – Jawadi (55) dan Sumira (43) Pasangan Suami Istri asal Lampung Utara Kabupaten Waikana Kecamatan Negeri Besar Desa Tegal Bukti Ini mengaku sudah 4 hari bermalam di pelabuhan Tanjung Kalian Muntok karena tidak bisa menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Api-Api. Bahkan, Jawadi dan Sumira mengaku sempat tidur bersama ceceran kotoran kambing di emperan trotoar sekitaran Pelabuhan menggunakan alas kardus.

“Sudah 4 hari di pelabuhan, cuman lamanya di luar pelabuhan, selama di luar tidurnya di emperan, pake kerdus, banyak taik kambing, sedih bener, kok masyarakat pelabuhan dengan masyarakat kecil tidak ada pengayoman sama sekali” kata Jawadi, Minggu 26 April 2020.

“Informasi bisa menyeberang itu dari travel, masih bisa katanya, hari minggu terakhir ini, nyatanya model ini, jadi kami ke mana mengadu ??, travelnya ditelpon iya2, jadi saya nunggu travel nih, yang kemarin nganter, rencananya mau balik lagi ke nyelanding kalau tidak bisa menyeberang” tambahnya.

Di kondisi bulan Puasa ini, Pasutri itu juga mengaku tidak punya uang lagi untuk makan dan minum. Kata mereka, waktu terakhir bisa makan berkat pemberian dari polisi setempat yang sedang berjaga.

“Nah, pagi-pagi di kumpulkan, kesimpulannya ditolak, dak ada penyeberangan, nah kami ini mau ngadu ke mana ?? Bekal sudah habis, saya ini (cari nafkahnya,-red) di sini, ngadu nasibnya di (Bangka) sini, aku ini tujuan itu mau pulang kampung” ungkapnya.

Pasutri yang diketahui bekerja sebagai tukang kebun karet di Desa Nyelanding selama 4 bulan ini berharap bisa menyeberang, sebab telah menghabiskan uang sekitar 1.250.000 sebagai ongkos yang ia berikan kepada travel sebelumnya.

“Kami menjalani hubungan (komunikasi) dengan travel, perjanjiannya dari Bangka ke lampung biayanya 625 ribu per orang sudah dibayarkan” tuturnya.

“Mau pulang, tapi pihak Pelabuhan nolak, ga ada toleransi sama sekali, itu kami kerja ngaret, di Kebun karet masyarakat nyelanding, sudah selesai ngaret ya pulang (kampung,-red), setiap kebun ada rumah, disiapkan fasilitas sama yang punya kebun” Tambahnya.

Ia juga mengatakan, bahwa pihak Pemerintah dan Pelabuhan tampak tidak punya perhatian dan pengertian sama sekali terhadap rakyat kecil yang hanya ingin menyeberang seperti mereka.

“Kalau dari Bangka ini kan aman-aman, ga ada zona merah, pas pulang ke sana yang penting kami sudah disebrangkan ke Palembang, pas di Palembang keluarga kami juga ada di Palembang, kalau di sini ga ada, sebatang kara ini” pungkasnya.

Penulis : Sepri | Alp

Share.

About Author

redaksi@lensabangkabelitung.com'

Leave A Reply