Ayo Pebisnis Timah Wake Up, Kalahkan Label Country Risk!

0

Zaman terus bergerak. Masa berubah. Peta persaingan juga sudah berubah. Sesuatu yang ampuh di masanya, benarkah masih akan sedemikian powerful di era sekarang?

Pertanyaan ini seketika terlintas di kepala, saat membaca berita yang mengabarkan melemahnya harga timah di pasar global. Mengutip Okezone, Selasa, 8 Oktober 2019, harga logam timah di Bursa Berjangka hingga September 2019 anjlok di level US$ 16.300 per metrik ton. Jauh bila dibandingkan posisi pada awal tahun yang masih mencapai US$ 21.740 per metrik ton.

Yang bikin dahi mengernyit adalah ketika mendapati formulasi yang dihadirkan. Untuk menaikkan harga komoditas tambang tersebut, PT Timah Tbk (TINS) berencana mengurangi volume produksi dan menahan ekspor timah.

Jurus menahan ekspor agar harga membaik, itu sebenarnya jurus lama. Ampuh, dipakai beberapa tahun lalu. Yang paling diingat, sekitar akhir tahun 2011. Ketika saat itu harga timah terus melandai di kisaran US$ 17.000 per metrik ton.

Efek dari moratorium ekspor, yang terbilang tokcer kala itu adalah ketika harga sempat membaik di kisaran US$ 22.000. Terbilang lumayan, meski masih jauh dari titik puncaknya di tahun itu yang mencapai US$ 32.347 pada April 2011.

Nah, ketika jurus lawas ini kembali akan dipakai, -mohon maaf- agak meragukan efeknya. Ibarat film kungfu. Jurus lama dari sang pendekar, biasanya sudah dipelajari oleh musuh. Jurus andalan pun dengan terpaksa jadi tak berguna. Karena teknik dan gerakannya telah dipelajari musuh. Semacam sudah punya antidot, ramuan penangkalnya. Sesuatu yang mematikan, berubah menjadi usang, obsolete. Nyaris tiada guna.

Di masa sekarang, di saat Indonesia kembali bertekad menjadi pemain utama dan penentu harga timah dunia, praktik bisnis pertimahan diwarnai dengan hadirnya narasi timah yang berasal dari penambangan ilegal. Juga, isu pekerja anak di bawah umur, dan kerusakan lingkungan. Tiga isu ini terus dimainkan pasar global untuk menekan Indonesia selaku produsen timah. Inilah sejatinya yang menjadi lawan utama. Semua bermuara pada narasi yang memojokkan, menyudutkan, menekan.

Secara halus mereka memaksa Indonesia berbenah, melalui perpanjangan tangan mereka lewat LSM-LSM internasional yang turun memantau. Bahkan memelototi hingga ke sakan, lubang-lubang camui, tambang-tambang laut.

Makanya, kemudian kita mengenal harus adanya persyaratan CnC (Clear and Clear), untuk memastikan timah yang diekspor berasal dari tambang yang benar.

Sekali lagi, dapat disebut, lawan utama dari bisnis pertimahan adalah narasi-narasi yang merugikan Indonesia, terutama Bangka Belitung selaku daerah penghasil timahnya. Situasinya ini hampir sama dengan sawit. Ada benang merah narasi yang dimobilisasi negara asing untuk melemahkan posisi Indonesia.

Pada sawit, untuk menekan Indonesia sebagai pengekspor, narasi deforestasi, kerusakan lingkungan, tagar #SaveOrangutan, mereka mainkan. Meski timah tak sama dengan sawit karena tak ada produk substitusi yang merugikan negara pengimpor, namun mereka berkepentingan untuk memegang kendali harga. Kalau bisa, harga mereka mau serendah mungkin.

Karenanya, timah ilegal, pekerja anak di bawah umur, dan kerusakan lingkungan, menjadi tiga narasi utama yang terus dimainkan. Di satu sisi benar, harus dibenahi. Namun di sisi lainnya, tak boleh ikut terlarut dalam arus yang dimainkan. Semua dimobilisasi demi kepentingan pihak tertentu.

Sebagai gambaran, hal berikut bisa jadi patokan. Bila dunia saat ini sangat ‘cerudik’, menaruh perhatian penuh pada narasi timah ilegal, kenapa dulu cuek saja dengan timah selundupan. Kok dulu konsumen asyik-asyik saja membeli timah haram yang diperoleh dengan cara selundupan dari Indonesia. Nah, di sini ada standar ganda yang dimainkan.

Oleh karena itu, patut bercuriga pada negara tetangga yang turut menikmati tiap riak yang terjadi di Indonesia. Mulai kapan timah ilegal, pekerja anak di bawah umur, dan kerusakan lingkungan dipermasalahkan? Persisnya, sejak kita gencar menghadang laju penyelundupan pasir timah maupun balok timah sembarang cetak yang bertahun-tahun lamanya oleh para ‘smokkel’ diselundupkan ke Singapore.

Singapore itu kecil. Cuma 1/16 dari luas pulau Bangka. Namun, seperti kancil. Dia lincah. Tentu juga cerdik, -untuk sekadar ‘ga tega’ menuding sebagai licik-. Persis istilah main qiu-qiu, ‘kalah mata, menang mata’. Tak boleh lengah, walau sekejap.

Sebagai negara tetangga dekat, negara kita memang kerap direpotkan oleh negara kota itu. Dari urusan kecil persaingan di lapangan sepakbola. Atau, soal sulitnya mengekstradisi pelarian. Maupun, urusan yang dekat dengan Bangka Belitung, masalah pertimahan ini. Untuk unsur kimia berkode Sn (stannum) ini, Singapore banyak menarik keuntungan dari Indonesia.

Singapore, tercatat sebagai negara yang tak lagi punya tambang. Tapi mereka masih terhitung sebagai negara pengekspor timah. Ketika laju penyelundupan timah pintu-pintunya ditutup, mereka kehilangan pemasok. Tapi, tetap tak kehilangan akal. Di jalur legal, mereka pintar cari celah. Menjelma jadi secondary market. Tetap menjadi pengekspor. Ketika Indonesia yang saat ini bahkan dilabeli sebagai country risk untuk perdagangan timah. Tentang country risk, setidaknya, itu yang disampaikan oleh Indonesia Clearing House (ICH) beberapa waktu lalu.

Secondary market timah Indonesia di Singapore pada semester pertama 2019 bahkan meningkat tajam 100% per bulan Juli 2019 lalu. Artinya, konsumen lebih suka membeli timah Indonesia dari negara tetangga ini.

Karena itu, tekad menjadi penentu harga timah dunia hanya akan jadi wacana penghias halaman-halaman berita. Menjadi percuma, kalau label country risk tidak dilawan.

Menjadi pula pertanyaan, kapan dan bagaimana stigma Indonesia sebagai country risk dalam bisnis pertimahan mau dilawan? Kapan benar-benar mau menjadi penentu harga timah dunia?

Menjadi wajar pula kalau jadi pesimis, bila cara melawannya masih memakai cara konvensional. Masih menjadikan jurus penghentian ekspor, sebagai panglima atas solusi.

Karena itu, ayo pebisnis timah, wake up. Kalian, melawanlah! Dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Buktikan kalau kalian bisa!

Penulis : Donny Fahrum

Share.

About Author

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Leave A Reply