Jurnalis Penjaga Bahasa, Jangan Kalah Kelas

0

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Bulan Oktober sudah di depan mata. Bulan yang istimewa karena ada bulan bahasa. Insan pers, kembali disadarkan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai kaidah.

Menjadi lebih menarik, karena tahun ini Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung secara khusus bahkan mengingatkan para jurnalis untuk menjadi penjaga bahasa dan sastra.

Bagi jurnalis, urusan menjaga bahasa dan sastra ini, terbilang gampang-gampang susah. Karena seperti mengkritik diri sendiri, pada profesi kami yang kadang masih alpa dalam berbahasa yang benar.

Namun, ini juga menjadi lonceng pengingat. Agar kesalahan tak perlu terulang. Agar semakin baik. Agar kualitas tulisan makin sempurna.

Sejatinya, menjadi jurnalis itu tak mudah. Ada tanggung jawab besar yang dipikul. Terutama pada masalah produk berita yang dihasilkan, karena menjadi bahan konsumsi pembaca. Kadang, perlu memilih istilah dan diksi yang tepat, agar pembaca tak salah mencerna.

Repotnya, karena sering berhadapan dengan petinggi institusi yang secara status ekonomi dan sosial dirasa lebih tinggi, jurnalis kadang merasa kalah kelas. Bertindak seperti spons, menyerap begitu saja kebiasaan penggunaan istilah yang narasumber gunakan. Lalu, latah menggunakannya. Salah satunya, hal ini sering ditemui pada penggunaan kata giat.

Untuk lebih jelas, penulis beri contoh dalam kalimat yang dikutip dari salah satu media massa lokal ternama, sebagai berikut:

….. dalam giat Minggu Militer bulan Juli 2019 di Makorem 045/Gaya ini juga dilaksanakan latihan baris-berbaris yang diikuti oleh seluruh prajurit Makorem 045/Gaya bertempat di halaman Apel Makorem 045/Gaya, Namang, Kabupaten Bangka Tengah.

Pembaca yang tak terbiasa dengan kebiasaan institusi militer, kemungkinan dibuat bingung dengan apa maksud deretan kata giat Minggu Militer, pada kalimat yang ditulis oleh jurnalis di medianya tersebut. Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata giat mengacu kepada istilah: rajin, bergairah, dan bersemangat (tentang perbuatan, usaha, dan sebagainya).

Ternyata, bukan itu maksudnya dalam kalimat itu. Dalam sehari-hari di lingkungan internal instansi militer, kata giat mengacu pada istilah kegiatan. Namun, oleh mereka itu disingkat. Tradisi menyingkat itu konon karena efisiensi bagi pekerjaan, sesuai dengan kebiasaan mereka yang butuh kecepatan. Sah dalam internal institusi, karena mereka saling memahami. Namun tak boleh insan pers menyerapnya begitu saja. Pada contoh kalimat yang dikutip tadi, jurnalis atau editor di kantornya, mestinya menulis: kegiatan Minggu Militer. Bukan, giat Minggu Militer.

Jadi, kalau pembaca artikel ini besok ditanya oleh bapak-bapak tentara, “Ada giat apa hari ini?”. Tentu, maksudnya dia menanyakan tentang ada kegiatan apa yang dilakukan di hari ini. Bukan menanyakan rajin atau tidaknya pihak yang ditanya. Namun, sekali lagi, penulisan demikian tidak boleh dilakukan jurnalis.

Pada produk jurnalistik lokal kita, kadang pembaca juga dibingungkan oleh logika berbahasa. Ada penggunaan istilah yang kurang cermat. Contoh terbaru pada kegiatan yang akan digelar oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terkait senam Bedincak. Tertulis dalam sebuah judul berita: Senam Bedincak Bakal Pecahkan Rekor MURI. Ada juga yang menulis: Senam Bedincak Akan Pecahkan Rekor MURI.

Membaca judul dengan mencantumkan kata pecahkan tersebut, seolah-olah sudah ada rekor senam Bedincak sebelumnya yang tercatat di Museum Rekor Indonesia, dan akan dipecahkan. Padahal, gerakan senam Bedincak saja baru diciptakan beberapa waktu lalu. Yang tepat, judul tersebut mestinya: Senam Bedincak Bakal Tercatat di Rekor MURI. Karena belum ada yang membuat rekor MURI senam Bedincak sebelumnya. Ini baru upaya pencatatan rekor yang pertama.

Hal lainnya, pada media massa kita, juga sering ditemukan bertabur singkatan atau akronim. Ini kadang membuat pembaca jadi membutuhkan waktu untuk mencerna. Misalnya, terdapat kata balon. Jangan langsung membayangkan balon itu adalah benda berbentuk bulat atau oval, terbuat dari karet dan ditiup untuk menjadi mainan anak-anak. Tapi di musim pemilihan kepala daerah, kata itu justru mengacu kepada bakal calon yang disingkat menjadi balon.

Juga, terdapat berbagai macam akronim lainnya, yang bagi kalangan biasa berpotensi mengernyitkan dahi. Misalnya buser, sajam, curanmor, lakalantas, tipiring, tipikor, pilpres, pilgub, pilkada, pemilukada, miras, senpi, dan lain-lain.

Jurnalis mesti paham, kalau pembacanya seringkali tak punya waktu banyak. Bahasa yang digunakan mesti mudah dimengerti. Karena itu, ketika menggunakan akronim atau singkatan harus bisa dipahami bahkan oleh para pelajar Sekolah Dasar.

Mengutip pakar bahasa JS Badudu, bahasa jurnalistik hendaknya memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar, dan jelas. Sifat-sifat itu harus dimiliki oleh bahasa pers, bahasa jurnalistik, mengingat surat kabar ataupun media daring dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.

Jangan sampai pula, untuk hal sederhana jurnalis menjadi abai. Hal ini sering terjadi dalam penulisan berita yang menunjukkan tempat. Kata di sana, di sini, di dapur, di kamar, sering dijumpai penulisannya disambung, lupa untuk dipisahkan. Ini jangan sampai terjadi lagi.

Bila sudah terbiasa menulis baku dalam istilah yang juga tepat, penulis lantas membayangkan kalau suatu waktu nanti, media massa lokal kita menjadi rujukan terpercaya bagi para pelajar untuk belajar Bahasa Indonesia. Kawan-kawan jurnalis mesti sadar, kalau di ujung jemari mereka tersandar harapan berbahasa Indonesia sesuai kaidah yang baik dan benar.

Mari berbenah. Tetap junjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Penulis : DONNY FAHRUM

Share.

About Author

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Leave A Reply