Djohan Riduan Hasan Mengajak Mahasiswa Untuk Bangkitkan Jiwa Wirausaha

0

Lensabangkabeliung.com, Pangkalpinang – Ketika anak-anak remaja akrab dengan istilah ‘move on‘ untuk membuat rileks suasana hati, kalangan bisnis pun akrab pula dengan kalimat ‘keep moving forward‘. Kalimat terakhir, bahkan dipakai Toyota sebagai tagline produknya. Semua, bermuara pada satu kebutuhan untuk: bergerak!

Yup, bergerak menjadi suatu kebutuhan bagi tiap orang, untuk maju dalam kehidupannya. Topik ‘Yang Muda yang Bergerak’, menjadi inti materi yang disampaikan Djohan Riduan Hasan, yang diminta STIE IBEK untuk memberi kuliah umum kewirausahaan di kampus yang berlokasi di kawasan Kacang Pedang, Pangkalpinang itu, pada Selasa, 26 September 2017 malam.

Di depan ratusan mahasiswa yang memenuhi ruang perkuliahan, pengusaha perkebunan itu mengulang kembali perkataan yang kerap diterimanya dari orangtua, selagi dia muda: bergeraklah. Permintaan yang sama, disampaikannya kepada para mahasiswa yang antusias mendengar kuliah umum pemilik kawasan wisata hijau Bangka Botanical Garden ini.

“Selagi muda, bergeraklah. Bergerak itu tanda kalau kita ini hidup. Saya dipesan oleh orang tua saya, kalau orang hidup itu mesti lentur dan fleksibel. Jangan keras dan kaku. Kalau kita keras dan kaku, itu sama saja dengan orang mati,” pesannya. Sikap fleksibel dan lentur, dikatakannya menjadi penting dalam menghadapi masalah saat bisnis mulai berjalan.

Djohan bercerita, saat dirinya dulu menjadi mahasiswa Teknik Arsitektur di Universitas Tarumanegara, Jakarta, ada banyak waktu yang sayang sekali terbuang di sela perpindahan antar mata kuliah. Misalnya, mata kuliah A selesai jam 2 siang, terus lanjut lagi mata kuliah B di jam 7 malam. Nah, jam waktu kosong tersebut, daripada terbuang percuma dengan berdiam diri di kampus, dimanfaatkannya dengan segera bergegas menuju toko kakaknya. “Iya, saya bisa bantu-bantu di sana, manfaatin spare time yang ada. Setelahnya, sebelum jam tujuh malam, saya ke kampus lagi,” ujarnya. Semua, ikhlas dilakukannya tanpa berharap bayaran.

Secara tidak langung, Djohan sadar, saat itu ada tiga pelajaran penting yang dilakukannya, dengan tekun memanfaatkan waktu luang untuk membantu kakaknya. “Tidak takut rugi waktu, tidak takut rugi tenaga, dan tidak menunda pekerjaan,” tukasnya. Dan ternyata, belakangan dia tahu, kalau hal-hal yang dilakukannya sejalan dengan prinsip para wirausahawan. Digabung dengan kejelian menggunakan otak, memakai hati, tekun, ulet, berupaya terus menerus, dan senantiasa bersyukur, menurutnya berhasil mengantarkannya ke tangga kehidupannya sekarang. “Segala proses harus kita mulai, ikuti tahapannya, karena memang nggak bisa langsung jadi orang kalau tanpa melalui anak-anak tangga yang dimulai,” ujarnya.

Mumpung masih berusia muda, kepada para mahasiswa STIE IBEK, Djohan berpesan untuk menanamkan mental berani bermimpi; jangan takut mencoba, jangan takut gagal, jangan takut berbagi, dan jangan takut sukses. “Kalau gagal sekali, coba lagi, sampai ketemu trik dan kiat. Itulah bisnis, itulah wirausaha. Kalau kita tidak pernah bertemu benturan, tidak pernah ketemu masalah, maka kita tidak akan pernah tahu bagaimana caranya mengatasi masalah,” tukasnya.

Kepada para mahsiswa yang mengikuti kuliah umum malam itu, penerima Penghargaan Kalpataru 2010 itu, meminta mahasiswa untuk menjauhi stereotype yang terlanjur dilekatkan pada masyarakat kita. “Jauhkan sifat dak kawa nyusah. Pintar dak ngajar, budu dak belajar. Hidup segan, mati beguyur alias menerima nasib apa adanya,” tekannya.

Saat ditanyakan seorang mahasiswa tentang modal untuk menjadi pengusaha, Djohan mengatakan modal tak mesti harus diartikan sebagai uang. Dia berharap, para mahasiswa memahami kekuatan daya dukung dan daya ungkit, dengan juga jeli pasang mata dan pasang telinga, serta menjaga kejujuran dan kepercayaan. “Misalnya, kalau mau buka toko. Kalian juga datang ke toko orang pasang mata, pasnag telinga. Jadi, kalau hari ini orang nanya ada barang apa di toko kita, maka kita bisa jawab ada. Tapi, adanya di toko sebelah, kita bisa ambil. Modalnya bisa ngutang, itu modal kepercayaan,” jelasnya.

Di akhir sesi, pengembang kawasan wisata Pan Semujur ini mengajak peserta kuliah umum malam itu untuk mensyukuri tiap rezeki yang datang. “Pikiran yang sehat, tubuh yang sehat, dan hati yang sehat adalah rezeki Tuhan kepada kita. Kalau ketiga hal ini ada, maka berarti kita sudah penuh dengan rezeki,” ujarnya.

Tak lupa, dengan mempersiapkan mental wirausaha sedini mungkin, menurut Djohan sudah merupakan sebuah persiapan untuk menyongsong kesuksesan, saat peluang hadir di depan mata. “Karena, keberuntungan itu adalah ketika peluang bertemu dengan kesempatan. Hanya orang-orang yang bersiap, yang akan cepat menyambar kesempatan itu,” pesannya kepada para mahasiswa peserta kuliah umum, malam itu.

Source : Bangkatimes.com

Share.

About Author

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Leave A Reply